Make your own free website on Tripod.com

SEKAR GENDING

 

 

1.   Pengertian dan Bentuk

Sekar Gending atau ada pula yang menyebut karawitan campuran adalah sekaran yang diiringi dengan gendingan. Beberapa bentuk sekar gending dalam pagelaran karawitan dibagi dalam beberapa bagian menurut jalannya sekar dang ending. RMA Kusumadinata yang lebih banyak berorientasi pada gamelan pelog/salendro dalam mengungkapkan sekar gending menyebutkan ada lima bentuk sekar gending, yaitu:

1.1. Sindenan Lampah Lagon

Sekar irama merdika yang diiringi oleh waditra-waditra yang mempunyai sifat-sifat individu, seperti rebab, gambang, gender, suling dan lain sebagainya. Dalam bagian akhir (madakeun), diiringi gending tandak dengan waditra-waditra yang lain (disarayudakeun)

1.2. Sindenan Lampah Sekar Gending

Gending dan Sekar berjalan dalam satu paduan, di mana panjang pendeknya bila diukur dengan wiletan akan sama panjangnya.

1.3. Sindenan Lampah Sekar

Sekar tandak yang diiringi waditra-waditra seperti gambang, gender, gong, kendang dan sebagainya

1.4. Sindenan Lampah Gending

Iringan gending gamelan hanya diisi oleh sekar pada bagian-bagian tertentu saja.

1.5. Sindenan Lampah Jineman

Pada prinsipnya sama saja dengan sindenan lampah sekar, perbedaan yang terutama hanya pada alat rebab saja, di mana alat ini tidak dipergunakan.

 

Paduan antara sekar dang gending dapat ditarik kesimpulan:

(a.)    Paduan sekar gending dalam irama merdeka secara penuh, seperti halnya pada tembang dan kakawen. Pungkasan pada irama tandak bila hal itu telah mencapai gong (itu pun kalau diperlukan.  Bentuk pungkasan pada iringan tabuh madakeun di bagian akhir goongan dari irama merdika ke tandak disebut “Sarayuda”

(b.)    Paduan sekar dang ending pada irama tandak, akan terjadi beberapa macam, yaitu:

 

Padu Sari

:

Sekar dang ending dalam kurun wiletan akan sama panjang dan pendeknya. Begitupun lagunya, lagu sekar dang gending sama.

 

Pirig Sari

:

Sekar berjalan dengan bebasnya, biasanya dalam bentuk sinden penuh dengan improvisasi-improvisasi, sedangkan gending mengiringi dengan cara-cara tabuh tradisional, seperti dikemprang, dicaruk dan sebagainya.

Nada yang sama hanya bertemu pada bagian kenongan dan goongan. Untuk mengisi waktu pada waktu sekar beristirahat, gending bisa main dengan cara memberikan gelenyu. Gelenyu adalah gending “panyelang” di antara sekar dang ending pada waktu juru sekar beristirahat menyanyi lagu antar perulangan pada posisi yang sama..

 

Olah Sari

:

Nama ini penyusun maksudkan untuk sekar gending yang berpangkal pada lagu gending dan sekar yang sama. Hanya di dalam mengiringinya, gending mengolah bentuk tersendiri sehingga kadang-kadang tidak bersamaan dengan sekar, tetapi tetap merupakan paduan yang sinambung. Contoh pada lagu-lagu Degung olahan Encar Carmedi.

 

Tenggang Sari

:

Sekar hanya mengisi iringan gending pada bagian tertentu saja. Di dalam sindenan biasanya terdapat pula lagu-lagu yang mempunyai tugas rangkap antar kenongan dan goongan, seperti lagu Bendrong, Waled, Angle.

 

Cipta Sari

:

Sekar dang ending disanggi (dikomposisikan) sedemikian rupa oleh komposisinya sehingga merupakan paduan yang mutlak, di mana apabila dihilangkan bisa mengubah bentuk dan jiwanya. Bentuk seperti ini terdapat dalam ciptaan-ciptaan baru, misalnya lagu Reumis Beureum Dina Eurih, Salam Manis.

Demikianlah bentuk-bentuk paduan sekar gending yang dapat diungkapkan berdasarkan praktek sesuai dengan cara yang tradisi dan perkembangan baru

 

Pada kehidupan karawitan Sunda, bentuk sekar gending itu tidak terbatas pada paduan sekar dan gending pada gamelan pelog-salendro saja, tetapi terdapat pula pada waditra-waditra non gamelan, seperti:

(1)     Sekar Gending lagu-lagu degung dengan iringan degung

(2)     Sekar Gending Kacapian seperti pada : Pantun, Jenaka Sunda, Tembang Sunda, Celempungan, Kawih

(3)     Sekar gending pada Calung

(4)     Sekar Gending pada Angklung

(5)     Sekar gending pada reog yang hanya diiringi ritmisnya saja oleh dogdog

(6)     Sekar Gending Ketuk Tiluan

 

Walaupun memang dalam bentuk-bentuk itu mempunyai kelainan-kelainan tersendiri, pada dasarnya (terutama pada teknik iringan) mempunyai kesamaan tertentu dengan hal-hal di atas.

 

 

2.   Pengembangan Sekar Gending

Dari bentuk-bentuk sekar gending yang telah disebutkan di atas, masing-masing mempunyai pengembangannya tersendiri, sehingga melahirkan istilah baru yang merupakan puncak daripada paduan sekar dang ending, yaitu Gending Karesmeni dan Sekar gending Wanda Anyar.

 

2.1. Gending Karesmen

Gending Karesmen menurut pendapat umum adalah paduan sekar dan gending yang dijalin pada salah satu cerita secara nonstop, yang wujudnya sebagai materi sendiri dalam pergelarannya.

RMA Kusumadinata menentang keras pendapat ini karena arti Gending Karesmen yang sebenarnya adalah Karesmian Gending yang artinya gending yang dikomposisikan k untuk dibawakan secara instrumentalia di mana unsur sekar tidak termasuk di dalamnya.

Seterusnya RMA Kusumadinata menyebutkan bahwa pendapatnya mengenai hal ini lebih tegas menyebut “Rinengga Sari atau Rinenggswara”. Hal ini pernah menjadi polemic dalam suatu surat kabar dengan MA Salmun, karena menurut MA Salmun istilah Gending Karesmen tetap saja harus dipertahankan sebab istilah ini telah kuat membaku dalam kehidupan seni pada masyarakat di Pasundan.

 

Mang Koko cenderung menyebut Drama Suara untuk istilah Gending Karesmen. Alasannya ialah selain kata drama suara itu lebih mudah dicerna dan diartikan, juga sejajar dengan istilah dalam  tari yang dipergunakan yaitu Sendra Tari untuk bentuk seperti itu. Nano. S mencoba pula memberikan istilah untuk jenis pergelaran semacam ini yaitu Kagunan Reka Carita. Kagunan merupakan kebangkitan seni suara, baik sekar maupun gending. Reka dimaksudkan suatu formula ungkapan dalam mewujudkan ciptaan, carita atau cerita ialah suatu ungkapan yang disusun oleh materi bahasa.

 

2.2.   Sekar Gending Wanda Anyar

Baik dalam bahasan sekar juga pada bahasan gending, sebenarnya secara tidak langsung perihal sekar gending wanda anyar ini banyak yang telah dibahas, tetapi ada beberapa bagian yang sangat perlu mendapat penekanan dalam hal sekar gending wanda anyar ini, yaitu:

(a.)  Perpaduan Komposisi antara Sekar dan Gending

Dalam sekar gending wanda anyar, sekar dan gending sudah merupakan satu komposisi yang utuh. Baik sekar maupun iringan harus sesuai dengan hal-hal yang telah ditetapkan oleh komponisnya. Gending dan sekar diproses sama, kemudian menjadi utuh dalam satu jalinan komposisi. Perlu diketahui bahwa yang pertama-tama memberi warna pada olahan sekar gending wanda anyar selalu diawali dengan gendingnya.

 

(b.)  Pangkat dan Pungkasan

Dalam sekar gending wanda Anyar, pangkat seperti dalam bentuk tradisi hampir tidak dipakai dalam penampilannya. Komposisi gending langsung mengawali dengan orientasi pada tema/judul yang akan diungkapkan. Biasanya komposisi gending itu berorientasi pada melodi lagu sekar/vokal atau mengambil jalur lain yang tetap berpijak pada sasran tema/judul yang menjadi sumbernya. Komposisinya tidak menghususkan permulaan lagu sekar saja, tetapi sering pula diolah di tengah, diantara bagian dari lagu/sekar sehingga saling mengisi jiwa dari endapan komposisinya. Terkadang terjasi pula dialog antara sekar dang ending yang saling mengisi atau bersama dengan melodi yang sama antara sekar dan gending.

 

Pada bagian akhir lagu (pungkasan), tidak selamanya bertahap pada tempo yang makin lambat untuk akhirnya tamat pada jatuhnya gong akhir, tetapi sering pula dibuatkan gending akhir sebagai penutup dari komposisinya.

 

(c.)  Modulasi dan Transposisi

Baik modulasi maupun transposisi laras dalam sekar/vokal Sunda bukan merupakan hal yang baru dalam kehidupan karawitan Sunda (mugkin daerah yang lain pun demikian). Bahkan para pesinden trsadisional seolah “sudah menjadi permainan” yang spontan dilakukan dalam pagelarannya. Sebagai contoh bagaimana bagaimana lincahnya pesinden dalam membawakan lagu dalam berbagai laras untuk posisi tabuh yang sama, dengan iringan yang tetap. Tetapi dalam sekar geding wanda anyar, laras vokal betul-betul menjadi perhatian seksama untuk pengolahan gendingnya. Sebuah lagu berlaras madenda, sedangkan iringan dalam laras salendro, maka dalam hal ini dibutuhkan suatu kejelian, kecermatan dalam mengolah gendingnya, apabila kita tidak menggunakan gamelan berlaras madenda. Di satu pihak memang ada beberapa nada yang tumbuk, tetapi di pihak lain ada beberapa nada yang tidak tumbuk yang justru menjadi cirri-ciri khas dari laras sekar yang dibawakan. Di sinilah Sekar Gending Wanda Anyar mempunyai keistimewaan tersendiri, komposisi tabuh laras salendro, sedangkan sekar berlaras lain (madenda, degung). Fungsi rebab dalam menjalin lagu dan komposisinya sangat besar pengaruhnya. Terjadilag seakan-akan dialog laras dalam aransemen dan iringan.

 

Catatan:

Modulasi              = perpindahan laras/surupan pada sebagian Lagu

Transposisi          = perpindahan laras/ surupan secara keseluruhan.

 

(d.)  Pindah Perangkat

Seandainya perpindahan gamelan itu terjadi antara salendro dan pelog, biasa disebut pindah perangkat. Pindah perangkat untuk Sekar Gending Wanda Anyar, baik dari pelog ke salendro atau sebaliknya, diolah dengan system tumbuk.

Jenis-jenis “tumbuk” pada gamelan, adalah:

(1)     Tumbuk Barang, yaitu dua perangkat gamelan Salendro dan Pelog mumpanyai murdaswara Tugu/Barang yang sama.

(2)     Tumbuk Lima, yaitu dua perangkat gamelan Salendro dan Pelog yang mempunyai murdaswara Loloran/Kenong yang sama.

(3)     Tumbuk Dada, yaitu dua perangkat gamelan Salendro dan Pelog yang mempunyai murdaswara Panelu yang sama.

(4)     Tumbuk Gulu, yaitu dua perangkat gamelan Salendro dan Pelog yang mempunyai murdaswara Galimer yang sama.

(5)     Kanyut Mesem, yaitu murdaswara Loloran pada gamelan Pelog sama dengan murdaswara Tugu pada gamelan Salendro, atau Singgul Salendro sama dengan Sorog pada Pelog.

 

Perpindahan perangkat bisa terjadi pula antara gamelan salendro dengan gamelan degung, dengan mengingat nada yang tumbuknya. Olahan kreasi wanda anyar dalam Sekar Gending Sunda banyak yang menggunakan perpindahan perangkat ini.

 

 

 

(e.)  Sekar Gending pada Kacapi

Kiranya perlu mendapat perhatian seksama bahwa alat kacapi banyak mewarnai keberangkatan awal-awal pada perkembangan sekar gending wanda anyar pada gamelan. Beberapa prosesnya benyak yang sama bahwa arransemen tabuh selalu mewarnai awal-awal sebelum masuk lagu, kemudian iringan secara tradisi mengiringi lagunya. Banyak di antara sekar-sekar gending yang diterapkan pada gamelan beranjak dari sekar gending kacapi. Penerapan pada gamelan mendapat pengolahan kembali, terutama pada pembagian tugas waditra. Karena aransemen kacapi banyak mempergunakan nada-nada tinggi sampai yang rendah secara langsung tugas-tugas itu diterapkan pada waditra rincik dan boning. Penerapan sekar gending kacapi pada gamelan terutama yang berlaras pelog, sedangkan yang berlaras salendro sangat jarang sekali.

 

Apabila diteliti dengan seksama, melihat contoh-contoh pada sekar gending wanda anyar, maka terdapat perbedaan-perbedaan dengan sekar gending tradisional, baik sekarnya maupun gendingnya. Khusus gending wanda anyar tampak perbedaan yang sangat jelas apabila dibandingkan dengan bentuk tradisi, perbedaan tampak dalam hal sanggian dan aturan tabuh yang keluar dari aturan tabuh tradisional gending wanda anyar sangat berkembang dalam gamelan pelog-salendro. Bahkan sekarang gamelan degung pun banyak mengolah gending-gending wanda anyar. Dengan kata lain, arti wanda anyar sama dengan kreasi baru, penekanan kata “wanda” dimaksudkan untuk lebih memberi identitas perbedaan dan kemandirian dari olahan kreasinya.

 

Cirri-ciri gending wanda anyar:

(a.)    Diketahui Nama Penciptanya (Komponis)

Gending wanda anyar merupakan gending yang secara khusus disanggi oleh komponisnya yang bertalian erat dengan suatu tema atau judul dalam mengungkapkannya. Kekhususan lahir dari ide penciptanya, maka jiwa yang terkandung dari gendingnya akan mewarnai juga tema atau judul yang diungkapkan. Akan sangat terasa apabila kita bandingkan dengan bentuk lagu “rerenggongan” pada gamelan tradisi, yang dalam beberapa hal dipakai dlam segala suasana dan berbagai jiwa. Penekanan kata sanggian pada karya seorang komponis dimaksudkan memberikan perbedaan dengan bentuk tradisi yang kebanyakan komponisnya anonym (nn).

(b.)    Fungsi Waditra Ditentukan Komposisi

Pada gamelan tradisi, waditra telah tertentu fungsinya dan tidak berubah-ubah. Dalam wanda anyar, waditra ditentukan fungsinya oleh kebutuhan komposisi yang disusun oleh komponisnya. Waditra-waditra itu tidak selalu bersama, tetapi dalam beberapa bagian secara tersendiri waditra tertentu dipercayakan untuk mengungkapkan bagian-bagian dari komposisi lagunya.

 

Apabila dalam gamelan tradisi tabuh saron dicaruk, bonang dikemprang, maka dalam gending wanda anyar ketentuan seperti ini dapat diabaikan. Bahkan sebaliknya, ada waditra-waditra yang tadinya tidak ditonjolkan pada gamelan tradisi, maka pada gamelan wanda anyar sangat dominant, misalnya rincik dan peking. Melodi lagu banyak dibawakan oleh alat berwilah atau penclon daripada dibawakan oleh rebab.

(c.)    Adanya pendayagunaan waditra

Jumlah waditra pada gamelan tradisi telah tertentu jumlahnya dan kadangkala dari jumlah yang sudah ada itu timbul pengurangan-pengurangan sehingga jumlahnya menjadi sedikit. Dalam gamelan wanda anyar mulai beranjak pada penambahan alat-alat lain yang sebelumnya tidak digunakan pada perangkat gamelan, seperti waditra kacapi, calung, angklung, alat-alat tiup lainnya (suling, tarompet, karinding, dsbnya) bersatu pada gamelan dalam satu jalinan komposisi. Penambahan sangat terasa memberi warna suara lain; gamelan yang didominisasi oleh waditra pukul pada akhirnya membutuhkan pula bunyi yang mempunyai jangkauan nada yang luas serta bunyi yang menyambung (tidak patah-patah). Berdasarkan kebutuhan inilah, maka penambahan waditra terus berkembang pada gending wanda anyar.

 

Demikianlah beberapa cirri gending wanda anyar yang sangat penting dalam perbedaannya dengan gamelan tradisi. Untuk lebih jelasnya, berikut ini ada contoh dari penulisan gending wanda anyar:

 

Sebagai tambahan perlu kiranya diketahui bahwa tidak semua gending wanda anyar untuk mengiringi lagu saja, tetapi banyak pula lagu-lagu tradisi yang diolah ke dalam bentuk wanda anyar. Sekar masih tetap sebagaimana mestinya, tetapi gending diolah dalam kreasi baru (wanda anyar). Lagu-lagu rakyat, lagu ketuk tilu, dan lain-lain telah banyak diangkat dalam oleh kreasi wanda anyar.

 

Perkembangan wanda anyar pada mulanya mendapat tantangan dari seniman-seniman yang kuat berpijak pada pola tradisi. Mereka mengatakan merusak pola-pola tradisi, bahkan ada yang menyebut bahwa gamelan wanda anyar ini “gamelan beatle”, di pihak lain para pemuda banyak yang tertarik pada bentuk ini sehingga akhirnya wanda anyar dimanfaatkan sebagai jembatan untuk para pemuda dalam mencintai karawitannya dan lambat laun mereka diarahkan pada bentuk tradisi. Selanjutnya gending wanda anyar yang tadinya banyak bersentuhan langsung dengan karawitan sekar, kini telah bersentuhan pula dan merembes pada olahan kreasi gending untuk tari. Akhirnya waditra kendang yang sangat dominant pada iringan tari telah banyak berkurang diganti oleh waditra lain dengan melodi lagu yang sesuai dalam mendukung gerak tari; hal semacam ini banyak terjadi pada olahan tari kreasi baru, baik tari lepas maupun sendratari.

Secara bertahap gending wanda anyar digunakan pula pada iringan pagelaran wayang golek. Gending tatalu yang biasanya dibawakan para nayaga menggunakan lagu-lagu tradisi sering diselingi dengan tabuhan wanda anyar. Para nayaga tradisi mengatakan bahwa gending wanda anyar adalah menabuh dengan teknik.

 

3.   Tata Penyajian Sekar Gending

Yang dimaksudkan dengan tata penyajian di sini adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan materi sekar gending pada suatu jenis pagelaran, baik mengenai perlengkapan instrumennya, gending-gending yang digunakan, fungsi waditra dan lain-lain.

Jenis kesenian yang hidup dan sering dipergelarkan di Jawa Barat sangat banyak jumlahnya. Oleh karena itu, pada pembahasan selanjutnya akan dibatasi pada penyajian sekar gending untuk Padalangan, Tari, Bajidoran/Jaipongan, Tembang Sunda/Cianjuran, Gending Karesmen.

 

3.1. Tata Penyajian Sekar Gending pada Padalangan

(a).    Instrument yang digunakan

Seni Padalangan menggunakan iringan gamelan lengkap, tetapi di Pasundan kadangkala tidak semua waditra dipakai disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat kadangkala hanya memakai dua bauh saron, panerus/demung, bonang, gambang, kendang, rebab dan gong. Penempatan gamelan diatur sedemikian rupa, diusahakan waditra rebab sebagai pembawa lagu dapat terdengar jelas oleh semua penabuh. Untuk waditra yang bersuara keras ditempatkan di belakang supaya tidak menganggu atau menutupi suara waditra lain

 

(b).    Fungsi Karawitan dalam mengiringi pergelaran, berfungsi:

ž      Pengiring gerak wayang (sabet wayang ketika wayang menari maupun berkelahi)

ž      Pengiring juru kawih (sekar/vokal)

ž      Pengiring kakawen dan “haleuang” dalang

ž      Penggambaran dramatisasi pemeran lakon (sedih, gembira, bingung, dan lain-lain)

ž      Pengiring adegan-adegan dalam garapan seni padalangan

Untuk mewujudkan suatu penyajian yang berhasil, maka fungsi pokok karawitan sebagai pengiring seni padalangan ini ialah adanya suatu kesatuan yang harmonis dalam menjalin sebuah lagu sesuai dengan yang dikehendaki oleh ki dalang. Keserasian dalam menabuh gamelan ini merupakan suatu syarat mutlak dalam sajian seni padalangan.

 

Karena karawitan di dalam padalangan adalah gending-gending untuk mengiringi gerak-gerak wayang dan vokal, baik yang dinyanyikan ki dalang maupun juru kawih, lagu-lagu yang dibawakannya ditujukan kepada penjiwaan dan watak wayang serta watak lagu itu sendiri, yang dalam menentukan lagu-lagu itu atas permintaan ki dalang.

 

(c).    Gending-gending untuk mengiringi Seni Padalangan

ž  Tatalu

Gending untuk tatalu ditabuh sebelum pertunjukan wayang dimulai, dengan maksud mengumpulan penonton dan pemberitahuan kepada mereka yang bersnangkutan (penerima tamu, yang punya hajat, dalang, juru kawih). Lagu-lagu yang dihidangkan dalam tatalu antara : Gending Jipang Karaton, Jipang Ageng, Jipang Renggong, jipang Wayang. Pada umumnya gending-gending inilah yang disajikan.

ž  Gending Panyambat

Panyambat artinya memanggil dalang. Jadi, gending panyambat adalah sebuah gending yang mengisyaratkan agar sinden, dalang naik ke pentas untuk segera memulai pagelaran wayangnya. Gending-gending yang dihidangkan dalam gending panyambat ini adalah Gending Banjar Mati. Dewasa ini nama lagu itu berubah menjadi Banjar Mlati.

ž  Gending Puja Mantra

Seperti garapan padalangan pada umumnya, sebelum memulai menggarap ceritera wayang, dalang kelihatan mengucapkan mantra-mantra/doa yang diyakini olehnya. Pembacaan mantra/doa diiringi salah satu gending, diantaranya gending-gending seperti Gending Papalayon Ageng dilanjutkan ke Karatagan Pedot atau dapat dipilih seperti Gending Karatagan Losari, Karatagan Ageng, Karatagan Wayang.

ž  Gending Pengiring Pagelaran

Pagelaran semalam suntuk menggunakan gending-gending seperti : Gending Kawitan, Gending Karawitan, Gending Pawitan, Gendring Bendra, Gending Sungsang. Gending Karawitan, Gending Pawitan dan Gending Bendra adalah gending-gending yang jarang dipakai sebagai iringan pergelaran wayang. Kelima gending yang disebutkan disesuaikan dengan kebiasaan dan kemampuan ki Dalang dalam memahami gending-gending tersebut. Gending-gending dalam seni Padalangan di Jawa barat, setelah Kayon/Gunungan dicabut dari pakeliran.

ž  Gending Jejer Karaton

Setelah dalang mencabut kayon, dilanjutkan dengan menarikan wayang yang harus berperan dalam jejer karatonan. Biasanya penampilan tokoh wayang pada jejeran ini diiringi dengan gending Sungsang dan ketika menyanyikan kakawen permulaan (murwa) dapat diingi oleh salah satu gending seperti : gending Golewang, Gending Kulu-Kulu Bem, Gending Kawitan, gending Karawitan, gending Pawitan, gendering Bendra atau dengan  Gending Sungsang.

Bahkan ada pula yang tidak menggunakan salah satu gending yang disebutkan di atas. Hal ini tergantung kepada kemampuan ki dalang dalam penguasaan lagu-lagu tersebut.

 

 

ž  Gending Badaya Karaton

Sebelum dimulai dengan “Pocapan”, dalam seni garapan padalangan didahului dengan menarikan “Badaya” untuk wayang perempuan  dan “Maktal” untuk wayang laki-laki. Tarian ini tidak menjadi keharusan, walaupun pada umumnya garapan padalangan di Jawa Barat selalu digunakan, tarian ini untuk menghormati para tamu yang menghadap raja.

ž  Gending di Paseban

Gending yang dipakai untuk jejeran Pasebanan ini pada umumnya adalah : Papalayon Solo atau Karatagan Wayang, demikian pula pada waktu wayang-wayang itu meninggalkan paseban. Gending para tokoh wayang yang akan menghadap masuk paseban antara lain:

ü       Untuk raja gagah: gending Macan Ucul, Ombak Banyu, bendrong, Waledan dan gending-gending lainnya yang sejiwa.

ü       Untuk raja lungguh atau satria: gending Renggong Gancang, kulu-Kulu Gancang atau gending yang iramanya sedang. Selesai paseban, gending beralih menjadi gending yang lain seperti lagu gehger sore, atau lagu-lagu jalan lainnya.

ü       Tokoh Rahwan dan sejenisnya mempergunakan gending khusus tapi tetap berpola pada patokan tabuh gending tradisi yang ada, sedangkan para ponggawa lainnya antara lain: Gending Gunung Sari, Palima, Panglima, Solontongan, Leang-leang.  Tokoh Kresna biasa menggunakan gending Sinyur atau Sanga Gancang. Pilihan-pilihan gending didasarkan kepada watak dan sifat tokoh wayang sebab akan dirasakan adanya kejanggalan apabila gending untuk satria lungguh digunakan pada wayang untuk ponggawa.

ž  Gending-gending lainnya

Untuk mengiringi perkelahian/peperangan, pada umumnya menggunakan gending Sampak Wayang atau gending Sampak Patra juga gending Ayak-Ayakan. Untuk gending panakawan gending Kicir_Kicir, Jangkrik atau Eling-eling dengan maksud untuk mengalihkan adegan kepada adegan berikutnya. Gending gending seperti Paksi Tuwung, Gorompol digunakan untuk para satria, apabila dalam keadaan sedih dapat menggunakan Gending Udan Mas, Sedih Prihatin, Tablo,Idan lagu sejenisnya. Dalam perang Barubuh atau Perang akhir dapat digunakan gending Rampak Sinyur.

 

Urutan gending-gending di atas dapat diubah, asal dengan jiwa dan watak gending yang sama, bahkan penempatan gending-gendingnya pun dapat dialihkan pula.

Demikianlah tata penyajian sekar gending pada pergelaran wayang golek, gending-gendingnya harus dipelajari secara khusus karena memerlukan penguasaan perbendaharaan gending-gendiang agar kebutuhan karawitan bagi iringan pertunjukan wayang dapat dipenuhi.

 

Dari uraian-uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan untuk cirri-ciri karawitan pengiring pergelaran wayang sebagai berikut:

(1).    Peralihan embat berdasarkan ketentuan dalam tata gending.

(2).    Pergantian gending berdasarkan norma-norma gending yang telah ditetapkan dalam komposisinya.

(3).    Keras lemahnya gending diatur menurut kebutuhannya.

(4).    Cempala dan Kecrek merupakan sarana yang utama bagi seorang dalang selaku sutradara dalam pergelaran wayang.

(5).    Ketika wayang menari, maka kendang merupakan pengiring gerak. Keras lemahnya berdasarkan kepada gerak wayang itu sendiri.

(6).    Peranan waditra Rebab sangat menonjol pada waktu gending mengiringi Sekar/Vokal

(7).    Gambang dan rebab berperanan pada waktu gending iringan Kakawen, Haleuang Dalang dan sebagainya, juga berfungsi sebagai ilustrasi.

 

 

 

3.2. Tata Penyajian Sekar Gending pada Tari Sunda

Pada prinsipnya karawitan sekar gending untuk tari adalah hampir sama dengan sekar gending untuk padalangan. Lagunya masih tetap yang itu-itu juga, hanya berbeda fungsi kegunaannya saja.

Secara singkat karawitan tari adalah lagu (sekar dang ending) untuk mengiringi gerak-gerak tari berdasarkan keperluan dan fungsi yang tersendiri.

 

(a)    Ciri-ciri Karawitan Tari Sunda

Yang dijadikan landasan untuk memberikan cirri-ciri karawitan sekar gending untuk iringan tari adalah bentuk karawitan tari “tradisi” terutama yang banyak berhubungan dengan gamelan. Adapun ciri-ciri itu antara lain:

F      Perubahan tempo

Berubahnya tempo bisa secara mendadak berdasarkan kebutuhan tarian. Misalnya dari gerak “Jangkung Ilo” terus bergerak ke “gedut”, rata-rata gerakannya “diembat” menjadi sedikit lambat. Begitu pula perubahan karakter tari itu sendiri akan menyebabkan pula perubahan ini, misalnya pada tari Kursus, dari karakter lanyap naik ke karakter gagah. Dinamika gending dalam iringan tari harus tampak perubahan keras-lunaknya tabuhan, berdasarkan gerak si penari.

F      Dominannya Fungsi Kendang

Dalam iringan tari, fungsi kendang terasa sekali menonjolnya sehingga lagu kadangkala menjadi nomor dua. Oleh karena lagu yang digunakan berfungsi hanya memberi ritme wiletan sehingga suatu tarian bisa diiringi dengan gending lain asalkan masih dalam watak yang sama. Timbulnya panatisme bagi si penari terhadap penabuh kendang mengakibatkan adanya kekuatan yang khusus bagi si penari sehingga si penari sehingga apabila si penari diiiringi dengan penabuh kendang yang tidak seperguruan akan terasa perbedaan pada dirinya meskipun tariannya sama. Karena menonjolnya fungsi kendang ini, maka yang dianggap tokoh nayaga pada tari adalah tukang kendang ini.

F      Digunakannya Waditra Kecrek

Meskipun alat ini tidak bernada (atonal), fungsinya pada tari terasa memberi warna lain. Beberapa tuagas kecrek dalam gending iringan tari:

(1)     Memberi aksen-aksen gerak sesuai pula dengan tabuh/tepak kendang.

(2)     Aba-aba apabila akan pindah gerak (misalnya gerak cindek, koma)

(3)     Aba-aba dalam peralihan lagu

(4)     Aba-aba hiasan dalam lagam gending

(5)     Secara tidak langsung merupakan merupakan arkuh tabuh/tepak kendang (dalam kegiatan latihan yang tidak menggunakan iringan, maka kecrek menggantikan fungsi kendang)

Pada perkembangan sekar gending tari sekarang ini, kecrek jarang sekali digunakan. Apabila ada hanyalah sebagai alat tambahan saja. Jadi, tugasnya tidak seperti apa yang sudah diuraikan.

F      Lagam Gending Tidak tetap

Lagam gending dalam tari sangat terasa sekali apabila kita bandingkan dengan lagam gending dalam sekar/vokal. Contohnya: Lagu Sulanjana untuk mengiringi tari dan lagu Sulanjana untuk mengiringi sekar. Secara arkuh lagu tidak ada perbedaannya, tetapi dalam lagam gendingnya terasa sekali perbedaannya, yaitu lagam gending pada sekar dinamikanya datar, sedangkan lagam gending pada tari tidak tetap sehingga timbullah dinamika sesuai dengan kebutuhan gerak tari.

F      Mempunyai Gending Pembukaan

Yang dimaksudkan dengan gending pembukaan disini ialah gending penghantar sebelum tarian pokok dipergelarkan. Tempo yang digunakan biasanya kering. Gending pembukaan sebenarnya secara tidak langsung bisa memberi gambaran tentang karakter tari yang akan dibawakan, tetapi ada pula yang sifatnya sebagai “tata karma” saja yang tidak ada hubungannya dengan tari yang akan dibawakan. Beberapa contoh tari yang biasa menggunakan gending pembukaan yaitu : Tari Anjasmara, tari Topeng, Tari lenyepan dan sebagainya.

 

F      Bersatunya Senggak dengan Gerak Tari

Senggak adalah suara-suara vokal nayaga/penabuh gamelan yang digunakan untuk memberi suasana pada gerakan tari. Sifatnya dinamis dan spontanitas. Gerak tari yang sudah bersatu dan harmonis dengan senggak adalah gerak Keupat, Mincid, Pakblang, Gedut, laras konda, Bokor Sinongo dan lain-lain

Dalam bentuknya senggak menggunakan cara:

(1)     Bersahut-sahutan, baik satu suku kata maupun satu bait lagu

(2)     Bersama-sama

(3)     Polyphonis

Kata-kata yang biasa digunakan antara lain : Eu..eu.. Ay ..Ay, Hewahehwahey, tumpak paser, dsbnya.

 

(b)    Korelasi Elemen Karawitan dalam Tari Sunda

Yang dimaksudkan dengan korelasi di sini adalah beberapa bahan lain yang memberi warna pada karawitan tari (sekar dan gending tari), yaitu:

(1)    Laras yang digunakan memberi pengaruh pada iringan tari. Sering terjadi karena kurangnya perhatian terhadap jiwa lagu dengan adanya laras, jiwa tarian tidak serasi dengan iringan yang digunakan. Misalnya, tari Sulintang akan serasi jiwanya apabila diiringi dengan gending Bendrong laras pelog daripada diingi Bendrong laras salendro.

(2)    Surupan yang digunakan mempunyai pengaruh terhadap suasana; hal ini sangat terasa sekali pada gamelan pelog dan laras madenda. Surupan memberi kekuatan pada: gerak-gerak peralihan, pergantian adegan, gerak dialog. Penggunaan surupan secara khusus (disanggi) terasa dalam sendratari “Ramayana 1971”, pada festival Sendratari Internasional di Pandaan Jawa Timut.

(3)    Patet disesuaikan dengan karakter tarian. Untuk gagahan biasa digunakan patet Barang (Nem). Wanda Satria lanyap patet Manyuro, sifat agung-luhung dipakai patet Sanga.

(4)    Sekar pada tari berdasarkan pagelarannya dapat bersifat mutlak dan pelengkap. Bersifat mutlak apabila sekar sengaja ditempatkan dan rumpakanya dibuat untuk memberi dukungan lain, misalnya untuk suasana tarian (adegan marah, sedih, meninggal, hidup kembali, dsbnya). Sekar ini biasanya dapat ditemukan pada pergelaran tari yang bercerita, baik berupa fragmen maupun utuh/sendratari. Sekar yang sifatnya pelengkap dapat ditemukan pada tari kursus. Rumpaka yang digunakan tidak usah sama dengan jiwa tarian, biasanya cukup memakai sisindiran (berbeda dengan ketuk tilu, di mana sekar sangat lekat dengan penari, selain menunjang gerak dan lagu, juga dipakai alat untuk memikat yang akan turut menari)

(5)    Gerakan lagu/tempo lagu, banyak membantu karakter/wanda tari yang dibawakan. Gerakan sawilet sedang, banyak digunakan untuk gambaran terhadap kegagalan keterampilan. Gerakan kering biasa digunakan untuk sifat marah atau adegan perang. Gerakan lalamba rata-rata digunakan untuk sifat-sifat yang agung, lenyep.

 

(c)    Gending Wanda Anyar pada Iringan Tari Sunda

Sebenarnya benih-benih Wanda Anyar pada karawitan tari Sunda lebih memungkinkan untuk berkembang lebih jauh. Salah satu sebab yang utama ialah adanya perubahan dinamika, baik tempo maupun keras lunaknya, terasa lebih menonjol dibandingkan untuk iringan sekar.

Pada bentuk tradisional dikenal tabuh-tabuh raehan, seperti Punten Nun, Cocol Pindang, Ciaseman, Nona Nangis Minta Pulang dan lain-lain, di mna semuanya telah keluar dari aturan-aturan tabuh yang membaku. Adapun kurangnya perkembangan tabuh-tabuh Wanda Anyar pada tari Sunda, antara lain disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: dominannya kendang, kurangnya kreativitas seniman-seniman karawitan tari, lingkup kehidupan penari dan para nayaga, kurangnya perhatian koreografer terhadap pengolahan gending-gending tari.

Usaha-usaha untuk keluar dari ikatan-ikatan tradisi pada karawitan tari, sebenarnya serasa lebih dahulu, kalau dibandingkan dengan bentuk-bentuk sekar gending seperti sekarang. Hanya perkembangannya sangat lamban sekali sehingga seolah-olah perkembangan Wanda Anyar dalam karawitan tari, merupakan hal-hal yang baru.

Tidak dapat disanggah lagi dan telah menjadi kenyataan bahwa pengaruh karawitan wanda anyar Mang Koko ada pengaruhnya terhadap karawitan tari, meskipun sebenarnya pada mulanya gending-gending itu digunakan untuk kebutuhan sekar. Cuplikan-cuplikan dari tabuh wanda anyar banyak digunakan pada pergelaran tari pada saat ini. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa karya bersama antara Mang Koko dan Enoch Atmadibrata, yaitu dalam Tari Hujan Munggaran. Gending secara “utuh” dibuat sehingga menjadi harmonis dengan tarian. Penciptaan tari seperti pada tari Hujan Munggaran memerlukan kecermatan dan suatu pendalaman terhadap karawitan gending wanda anyar.

 

(d)    Gending Wanda Anyar pada Sendratari Sunda

Karya sendratari Ramayana versi Sunda 1971 di Pandaan Jawa Timur, sampai saat ini merupakan karya bersama tokoh-tokoh tari Sunda yang paling menonjol. Dalam sendratari Ramayana ini sebagian besar tokoh-tokoh tari ikut mendukung, baik sebagai pemain langsung maupun sebagai pińata tari. Dasar-dasar gerak tari yang diambil adalah gaya Cirebon, di mana penonjolan “kedok/topeng” ditampilkan untuk tiap-tiap peran.

 

Penanganan dalam dukungan karawitan, secara luwes mempergunakan bentuk-bentuk tabuh tradisional dan wanda anyar banyak memberikan dukunganyang menyeluruh. Pengertian menyeluruh di sini ialah bahwa fungsi karawitan itu bukan saja sebagai pendukung untuk tarian itu sendiri, melainkan sewaktu-waktu berdiri sendiri sebagai ungkapan tari itu sendiri. Hal ini terutama untuk mempertahankan suasana dalam jalan cerita. Mengingat bahwa kebutuhan di atas sifatnya tetap dan merupakan penuangan dari bahasa gerak yang penuh kedalaman, maka dukungan karawitan harus benar-benar dapat mengimbangi. Pengolahan yang berangkat dari pola-pola wanda anyar sangat banyak membantu.

 

Adapun gending wanda anyar yang sangat kuat menonjol dalam sendratari tersebut antara lain:

(1)     Jembatan-jembatan antar adegan yang berbeda suasananya;

(2)     Mengangkat gending-gending tradisional dengan gubahan/arransemen wanda anyar

(3)     Penggunaan gamelan yang berbeda-beda laras dan dijalin dalam suatu komposisi dalam perpindahan.

(4)     Dialog-dialog waditra dalam memberikan aksen pada gerak-gerak tari.

(5)     Penonjolan sekar, rebab, suling dan waditra lain untuk mengisi gerak dan suasana.

 

Salah satu perkembangan yang sangat menggembirakan adalah adanya garapan tari Arjuna Wiwaha dalam tiga versi (Sunda, Jawa dan Bali) pada tahun 1976. jalan cerita dijalin dalam empat babak. Babak pertama versi Sunda, babak kedua versi Bali dan babak ketiga versi Jawa. Pada babak keempat kolaborasi ketiga versi tersebut, bergabung dalam suatu adegan bersama. Dalam babak keempat ini terasa sekali bahwa iringan gending untuk tari itu sangat membantu dalam mendukung gaya-gaya daerah yang bersangkutan. Ternyata pengolahan gending wanda anyar terasa sangat banyak membantu untuk menyatukan sebuah paduan antara Sunda _ Jawa – Bali dalam menjalin suatu komposisi gending pengiring.

Teknis yang digunakan dalam perpaduan ini ialah:

ž      Mencari nada-nada yang tumbuk diantara gamelan yang digunakan (Sunda – Jawa – Bali)

ž      Menentukan bentuk tabuh atau alat yang khas daerah masing-masing

ž      Mengolah dialog-dialog antar versi dalam iringan untuk mengaksen gerak-gerak tari

ž      Memadukan tiga versi dalam satu komposisi gending

 

Dengan jalan itu ternyata dapat dilaksanakan dengan baik, yaitu dengan cara mengolah sekar gending wanda anyar dalam menuju kepaduannya. Ternyata dengan gending wanda anyar sebuah komposisi gending dapat mengiringi versi lain, tanpa menghilangkan identitas daerah masing-masing. Semakin terasalah bahwa perkembangan dalam karya tari menempatkan gending wanda anyar untuk karawitan pengiring.

 

3.3. Tata Penyajian Sekar Gending pada Bajidoran/Jaipongan

Bajidoran adalah suatu bentuk tari yang diadaptasi dari tari pergaulan Ketuk Tilu dan gerak tariannya mendapat olahan kembali. Tari Bajidoran berasal dari daerah pantai utara Jawa Barat yang meluas sampai ke daerah lain di Jawa Barat, sehingga  melahirkan nama tarian yang lain yang disebut Tari Jaipongan, di mana gerakannya lebih lincah dan dinamis daripada tari ketuk tilu.

(a)    Instrumen yang digunakan

Kiranya instrument/waditra bagi iringan bajidoran ini pada awlanya tidak banyak cukup dengan Kendang, Rebab, Ketuk/Bonang yang terdiri dari tiga nada, kecrek dan gong. Namun selanjutnya seperti yang dapat dilihat pada iringan bajidoran sekarang ini, gamelan yang sedikit lengkap mulai digunakan pada dasarnya instrument pokok tetap harus ada.

(b)    Nama-nama gending

Adapun lagu-lagu (sekar gending) yang dibawakan dalam mengiringi tari Bajidoran antara lain: Erang, Peuyeum Gaplek, Sireum Beureum, Polostomo, Kacang Asin, Kangsreng dan lain-lain

 

Irama dan gerak pada Bajidoran dan Jaipongan telah mempengaruhi lagu-lagu Sekar Ageng seperti lagu Kulu-Kulu Bem yang tadinya lagu tersebut bukan berwatak dan bersifat gembira berubah menjadi riang-lincah-dinamis karena pukulan kendang yang mengiringi tarian.

 

3.4. Tata Penyajian Sekar Gending pada Tembang Sunda

Kiranya karawitan Tembang Sunda/Cianjuran lebih klasik dan tradisional karena seni suara ini berasal dari lingkungan yang sangat patuh pada pakem tembang Cianjuran, meskipun penggarapnya bukan hanya berasal dari lingkungan kabupaten. Sehingga lagu-lagunya masih dapat dikatakan tidak banyak mengalami perubahan yang sangat berarti.

 

Pada tahun 1954 karawitan Tembang Sunda dipengaruhi lagu-lagu pengingkaran dari tujuan garapannya. Namun berkat kekuatan tradisionalnya, maka tembang Sunda dapat mempertahankan nilai-nilai dan wibawanya.

Walaupun timbul beberapa versi, seperti versi Sumedangan, Ciawian, Bandungan, tetap agak sulit diingkari sumber Tembang Sunda yang semula ada adalah Tembang Sunda Cianjuran.

(a)    Instrumen yang digunakan

Instrumen/waditra yang digunakan untuk Tembang Sunda ini adalah Kacapi Parahu (yang besar disebut kacapi indung dan yang kecil disebut kacapi rincik), waditra suling. Kadang-kadang digunakan waditra rebab bila Sekar membawakan lagu berlaras Salendro.

(b)    Nama-nama Sekar Gendingnya

Sekar gending dalam Tembang Sunda cianjuran dapat dikelompokan menjadi:

ž      Dedegungan, misalnya lagu Sinom Degung, Rumangsang, dan lain-lain

ž      Papantunan, misalnya lagu Mupu kembang, raja Mantri, Kaleon dan sebagainya

ž      Rarancagan, misalnya lagu Bayubud, satria, Setra dan lain sebagainya

ž      Jejemplangan, misalnya lagu jemplang titi, jemplang ceurik, Jemplang Panganten dan lain-lain.

 

3.5. Tata Penyajian Sekar Gending pada Gending Karesmen

Gending Karesmen yang hamper mirip dengan “Opera” adalah sebuah pementasan teater dengan nyanyian atau dinyanyikan sewaktu melaksanakan dialog, lebih menggunakan kebebasan karawitan, tergantung kepada penyusunnya, yang disesuaikan dengan isi ceritanya, bahkan dicampur dengan jenis-jenis karawitan pun dapat pula asal tetap berpangkal kepada jiwa dan watak si pelaku dan sifat-sifat yang terkandung dalam dialog.

 

Karena watak, jiwa dan sifat dalam pergelaran Gending Karesmen ini bermacam-macam, maka digunakan karawitan gamelan, karawitan Cianjuran, karawitan degung atau karawitan jenis lainnya agar percakapan pelaku dan ilustrasi keadaan dapat terpenuhi. Larasnya pun bebas untuk dipakai, apakah akan memaki laras salendro, plog, degung atau madenda, yang penting; lagu-lagunya sesuai dengan jiwa pelaku dan isi dialog, laras-laras itu dikuasai pelaku dan tujuan akhir dari pergelaran terpenuhi sesuai kaidah-kaidah teater.

Adapun sumber cerita yang dibawakan pada gending karesmen umumnya dipetik dari ceritra Babad Pajajaran, namun ada pula cerita yang diambil dari lakon-lakon dewasa ini yang pada umumnya disebut drama swara dengan lagu-lagu yang dipergunakan bentuk lagu wanda anyar (kreasi baru), bahkan tidak jarang yang mempergunakan lagu-lagu pupuh.

 

Demi kepentingan penjiwaan dan gambaran watak isi cerita dan pelaku, dalam gending karesmen memakai jenis-jenis karawitan yang dianggap dapat mendukung pagelaran itu.

 

Beralih laras dalam gending karesmen bukan hal yang tidak mungkin begitu pula beralih irama sudah biasa dilakukan serta dapat pula beralih perangkat sesuai dengan kebutuhan dari sekar dan alur cerita serta perglarannya.

 

Fungsi gending dalam gending karesmen antara lain:

(a)      Mengingi sekar

(b)     Memberikan suasana

(c)      Mengaksen gerak-gerak pelaku

 

Nama-nama Gending karesmen dan Penyusun/penciptanya

Beberapa gending karesmen yang pernah dipergelarkan dari karya-karya seniman, baik sastrawan, komponis maupun koreografer, antara lain:

 

(1).    Sarkam Sarkim                                 : Raden Machyar Angga Kusumadinata

(2).    Iblis Minda Wahyu                            : Raden Machyar Angga kusumadinata

(3).    Si Kabayan                                       : Wahyu Wibisana – Koko Koswara (Mang Koko)

(4).    Si Kabayan jeung Raja Jimbul         : Wahyu Wibisana – Koko Koswara (Mang Koko)

(5).    Aki Nini Balangantrang                    : Wahyu wibisana – Koko Koswara (Mang Koko)

(6).    Pangeran Jayakarta                         : R.A.F – Koko Koswara (Mang Koko)

(7).    Nyai Dasimah                                   : Epe Syafei Adisastra – Koko Koswara (Mang Koko)

(8).    Sri Baduga Maharaja                       : R.A.F.

(9).    Bangbang Ekalaya                           : R.A.F.

(10). Mundinglaya Saba Langit                 : Wahyu Wibisana

(11). Inten Dewata                                     : Wahyu Wibisana

(12). Galunggung Ngadeg Tumenggung   : Wahyu Wibisana

(13). Nyi Rambut Kasih                              : Wahyu Wibisana

(14). Satu Syawal di alam Kubur              : RAF – Nano. S

(15). Perang                                              : RAF – Nano. S

(16). Sangkuriang                                      : RAF – Nano. S

(17). Raja Kecit                                          : Wahyu Wibisana – Nano – S

(18). Si Leungli                                          : Nano. S

(19). Ruhak Pajajaran                                : RAF – Mang Koko