Make your own free website on Tripod.com

KARESMENSEKATEN

Ada beberapa pendapat mengenai istilah sekaten diantaranya:

- Asal kata dari sekatian (1 kati) yaitu berat penclon dari tiap goong lebih kurang satu kilo

- Sekaten dari sesek ati (sedih) didasari oleh perasaan Siti Fatimah yang ditinggalkan oleh ke dua putranya yang gugur di medan perang

- Asal kata dari kata Sahadatein, didasari oleh tradisi dalam pertunjukan Sekaten, harus diawali dengan membaca kalimat Sahadat.

- Asal kata dari Suka Ati (gembira) atas kemenangan R. fatah dalam peperangan.

 

Waditranya: Bonang, Titil/Peking, Jengglong, Paneteg dan panongtong (kendang), Cret (ketuk tanpa penclon), Dua gong besar, Demung, Kajar

Gending-gendingnya yang dihidangkan berdasarkan waktu: Sekaten (19.30), Goleng (19.45), Cilingcing Durun (20.00), Bango Butak (21.00, tepat pada waktu turun jimat), Kajongan (23.00), Pari Anom (03.00), Rambu Miring (07.00), Rambu Cilik (14.00)

Surupan yang digunakan adalah Prada atau Pelog Sapta Nada. Gamelan ini digunakan sebagi gending upacara, terutama untuk memperinati hari kelahiran dan meninggalnya Nabi muhammad SAW, yaitu bulan Maulud selama satu minggu.

 

 

DEGUNG

 

Arti Degung sama dengan gangsa di Jawa Tengah, Gong di Bali atau goong di Banteng yang artinya GAMELAN.

Pasa awalnya Degung terdiri dari waditra: Bonang, Jengglong, Cempres, dan sebuah Goong besar.

Pada Kongres Java Institut tahun 1921 di Bandung, diadakan satu pertunjukan di antaranya ada Goong Renteng dari Lebak Wangi. Setelah Pa Idi (alm) melihat waditra-waditra tersebut, maka Degung ditambah dengan Suling dan Kendang. Dengan adanya penambahan waditra, makin terkenallah Degung. Lebih-lebih pada tahun 1927 dan 1928, digunakan untuk mengiringi Film Loetoeng Kasaroeng.

Sekitar tahun 1962, terlihat pementasan Degung dilengkapi dengan Angklung, namun perkembangannya tidak meluas disamping kurang praktis juga tidak ekonomis.

Tahun 1964, RA Darya melengkapi Degung dengan Gambang, Dua ancak Saron dan Rebab, untuk digunakan dalam pergelaran Gending Karesmen Munding Laya karya Wahyu Wibisana. Dan pada akhir tahun 1964, Enoch Atmadibrata membuat Tari Cendrawasih dengan menggunakan Degung, untuk lengkapnya.......

 

 kembali ke karesmen atau ke awal

ingin melanjutkan ke Gamelan Pl/Sl